Tegese Awon

Tegese Awon – Serat Wulangreh (bahasa Jawa: ꧋ಱकतचुकुगुगदददददूकुकुगगब) adalah salah satu bentuk syair Shupat yang merupakan pantun cahu n Pakubuwan IV, Raja Surakarta, 1 November 1988, 8 November. 1988, 1 Oktober 1820.

Kata Wulang identik dengan pitutur yang artinya belajar. Kata Reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti jalan, aturan dan amalan untuk mencapai atau mencari. Wulang Reh dapat diartikan sebagai belajar untuk mencapai sesuatu. Pada bagian ini yang dimaksud dengan perilaku adalah kehidupan yang harmonis atau sempurna. Agar lebih jelas, berikut adalah bagian yang mengandung arti kata tersebut:

Tegese Awon

Tegese Awon

Artinya ilmu dapat dipahami/dikelola dengan cara tertentu, cara mencapainya melalui uang tunai, yaitu uang tunai berusaha memperkuat karakter, pikiran (karakter) yang kuat menjauhkan diri dari karakter buruk.

Rangkuman Materi Bahasa Jawa 2021_sdn Model

Berdasarkan maksud puisi tersebut, amalan merupakan suatu langkah atau cara untuk mencapai akhlak mulia, bukan ilmu dalam arti ilmu semata seperti yang sering kita jumpai saat ini. Lembaga pendidikan lebih fokus pada kajian ilmu pengetahuan, mengesampingkan pendidikan moral dan karakter.

Salah satu ciri khas karya ini adalah tidak banyak menggunakan bahasa Jawa kuno (kuno) sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan, karena karya ini merupakan sinkretisme Islam-Kevan atau tidak sepenuhnya ajaran Islam, sehingga akan memicu perbedaan pendapat.​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​.

Jika dilihat dari bentuk tulisannya, Wulang Reh dapat ditemukan dalam disertasi, tesis, tesis, makalah bahkan dapat ditemukan di dunia maya. Tulisan-tulisan tentang Wulang Reh biasanya melihat isi atau maknanya, yang kemudian mengarah pada penafsiran terhadap isi Wulang Reh, seperti nilai-nilai luhur, akhlak dan akhlak (ada yang menyebutnya etika), nilai-nilai agama, dan ajaran kepemimpinan.

Kapatuh Pan Dadi Awon Tegese… .a. Kulina Banjur Dadi Alab. Kulina Banjur Dadi Becikc. Ora Tau Dadi

Melakukan penelitian perspektif kepemimpinan dalam Serat Wulang Reh. Kesimpulan: Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mempunyai sifat-sifat lonyo, lemer, ganjah, angrong pasanakan, nyumur gumiling, ambutut arit, adigang, adigung dan adiguna. Sebaliknya pemimpin harus mempunyai sifat jujur, tidak mengharapkan pemberian dari orang lain, rajin beribadah dan tekun melayani masyarakat.

Manah tegese, bausastra tegese, tegese tembang, harga burung awon awon, tegese tembung, mbabar tegese, makrifat tegese, pawiyatan tegese, tegese, anton abok awon, awon, tumpeng tegese

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *