Renungan Matius 6 5 15

Renungan Matius 6 5 15 – Shalom, semua pasti pernah berdoa. Hal ini tentu bukan suatu hal yang langka dalam kehidupan manusia. Ada sebuah kisah yang sering diceritakan dalam berbagai versi: “Di sebuah desa terpencil, pagi itu anak seorang siswa Sekolah Minggu sedang berjalan kaki ke sekolah sendirian, ketika di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor ular berbisa yang sepertinya hendak menggigitnya. , dalam keadaan panik dia bingung harus berbuat apa, lalu dia berdoa tetapi anak itu bingung harus berkata apa. Doanya begini: “Tuhan Yesus, berkahilah makanan ini, Amin”. Dan ketika anak itu membuka matanya, ketahuan bahwa ular itu telah melarikan diri.”

Seperti anak kecil dalam cerita, dia mengusir ular yang ingin mematuknya dengan doa agar dimakan jika kita menyadarinya lebih awal. Bagaimana mungkin? Mari kita lihat ayat 8, menggarisbawahi/menginstruksikan:

Renungan Matius 6 5 15

Renungan Matius 6 5 15

Tuhan menyelamatkan anak ini, karena Tuhan mengetahui apa yang dibutuhkan anak ini pada saat tekanan yang dialaminya, yaitu “diselamatkan dari Ular”. Lebih lanjut dijelaskan: “Sebab Rencana-Ku bukanlah rencana yang jahat, melainkan rencana Perdamaian.”

Daftar Ayat Emas Alkitab Tentang Kekhawatiran

Saudaraku, melalui Matius 6.5-15 Mengenai doa, mari kita jalani bersama sesuai subtema “berdoa sebagai gaya hidup orang percaya”, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana menjadikan doa sebagai kewajiban bagi umat Kristiani (umum) dan umat. Jemaat GKE (khusus), yaitu :

Kita harus selalu bersiap karena kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam kita (lihat Efesus 5:16). Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada renungan sebelumnya kita telah mendalami ikhlas memberi. Pada bagian ini kita sama-sama merenungkan satu tema yaitu “Berdoa Dengan Tulus”. Tidak ada satu agama pun yang tidak mengajarkan shalat. Dalam ayat 1 jelas disebutkan bahwa “kamu tidak menunaikan kewajiban agamamu di hadapan manusia.” Sholat merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi sebagai umat beragama.

Namun dalam menunaikan kewajibannya, masih ada masyarakat yang tidak sungguh-sungguh melaksanakannya. Sebagai orang munafik, mendoakan orang agar memperhatikan bukanlah hal yang salah.

Tuhan Yesus tidak hanya memberikan larangan atau perintah agar para pengikutnya tidak melaksanakannya, tetapi juga memberikan petunjuk yang benar bagi orang percaya untuk melakukan apa yang benar.

Tak Putus Berharap

Tuhan Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk berdoa kepada Bapa di surga. Doa yang dipanjatkan kepada Bapa di Surga menunjukkan adanya kedekatan antara umat-Nya dengan Tuhan, seperti seorang anak dengan ayahnya, demikian juga dengan hubungan antara pengikut Kristus dengan Tuhan. Jika kita sadari, maka saat kita berdoa hendaknya bukan lagi karena ingin mendapat pujian dari orang lain, namun karena kita sadar bahwa kita mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan.

Matius 6:7 (ESV) Juga dalam doamu jangan bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka mengira karena banyaknya kata, doa mereka akan terkabul.

Dalam konteks ini Tuhan Yesus berbicara tentang orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka pandai mengucapkan kata-kata yang baik, namun sayangnya mereka hanya menunjukkan bahwa mereka pandai berdoa. Doa mereka sebenarnya untuk dikabulkan oleh orang lain, bukan agar Tuhan menjawabnya.

Renungan Matius 6 5 15

Matius 23:14 (ESV) Celakalah kamu, hai ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu melahap rumah-rumah janda, dan kamu menyesatkan mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Oleh karena itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

Berdoa Sesuai Dengan Kehendak Allah

Tujuan mereka adalah mendoakan orang lain agar terlihat paling spiritual dengan menyusun kata-kata yang panjang dan terkesan mengesankan, meski tidak ada ketulusan.

Oleh karena itu, hari ini kita belajar bahwa sikap yang benar dalam berdoa adalah berdoa hanya kepada Tuhan dan berdoa tanpa merasa paling spiritual dihadapan orang lain. Matius 6:5-15 adalah bagian dari khotbah Yesus tentang doa. Khotbah ini merupakan salah satu khotbah Yesus yang terkenal dengan sebutan Khotbah di Bukit atau Khotbah di Tengah Lembah (Matius 5-7). Khotbah ini disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya dan orang banyak yang mendengarkannya di sebuah bukit di Galilea.

Bab 6 diawali dengan peringatan Yesus untuk tidak melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan penghargaan dari manusia, tetapi melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan penghargaan dari Bapa Surgawi. Yesus kemudian melanjutkan pengajaran doa. Dalam Matius 6:5-15, Yesus mengingatkan kita bahwa doa kita hendaknya dilakukan bukan untuk menunjukkan kebenaran atau mencari pujian dari manusia, melainkan untuk berkomunikasi dengan Bapa Surgawi kita. Yesus juga memberikan contoh doa yang disebut Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus mengajarkan kita untuk memuja dan menghormati Tuhan, meminta kehendak-Nya, meminta rezeki sehari-hari, meminta pengampunan dosa dan meminta pertolongan-Nya agar terhindar dari godaan dan kejahatan. Doa ini adalah salah satu doa yang paling terkenal dan sering digunakan dalam tradisi Kristen.

Yesus Sang Penyelamat”: Renungan, Jumat, 6 Juli 2018.

Oleh karena itu, Matius 6:5-15 mengajarkan kita untuk berdoa dengan tulus dan ikhlas, bukan untuk menunjukkan kebenaran atau mencari pujian manusia, tetapi untuk berkomunikasi dengan Bapa Surgawi dan meminta kehendak-Nya dalam hidup kita.

Matius 6.5-14 berbicara tentang doa dan memberikan contoh doa yang diajarkan Yesus yaitu doa Bapa Kami. Berikut penafsiran masing-masing ayat dalam Matius 6:5-15:

Ayat 5: “Dan apabila kamu berdoa, janganlah kamu seperti orang-orang munafik yang suka berdiri di rumah-rumah ibadat dan di sudut-sudut jalan untuk memperlihatkan diri kepada orang banyak. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka telah menerima upahnya.”

Renungan Matius 6 5 15

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak berdoa sekedar untuk menunjukkan diri dihadapan orang, namun berdoa dengan ikhlas dan ikhlas dihadapan Tuhan. Allah lebih menghargai doa yang ikhlas dibandingkan doa yang dilakukan hanya untuk mencari penghargaan dari manusia.

Renungan Katolik Minggu

Ayat 6: “Tetapi apabila kamu berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintunya, dan berdoalah kepada Bapamu yang di tempat tersembunyi; maka Bapamu yang melihat apa yang tersembunyi, akan memberimu upah.”

Ayat ini mengajarkan kita untuk berdoa dengan tenang dan tanpa gangguan di tempat yang tenang, agar kita dapat berkonsentrasi dan berkomunikasi lebih baik dengan Allah. Allah yang melihat doa kita yang tulus dan ikhlas pasti terkabul.

Ayat 7-8 : “Dan dalam berdoa janganlah kamu bertele-tele seperti orang kafir, karena mereka mengira dengan banyak bicara maka mereka akan didengar. Jangan sekali-kali kamu meniru mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu butuhkan, sebelum kamu meminta.”

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak mengucapkan doa yang bertele-tele dan berulang-ulang, melainkan menyampaikan permohonan kita dengan tulus dan singkat. Allah sudah mengetahui apa yang kita butuhkan sebelum kita meminta, maka kita hanya perlu menyampaikan permintaan kita dengan jelas dan ikhlas.

Berdoa Yang Tulus Dan Ikhlas Kepada Allah

Ayat 9-13 : Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berilah kami pada hari ini rezeki kami dan ampunilah dosa-dosa kami, sama seperti kami juga mengampuni orang-orang yang berhutang kepada kami. Dan jangan membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskan kami dari kejahatan. Karena Engkaulah yang mempunyai kerajaan, kuasa dan kemuliaan selama-lamanya. Amin.”

Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus mengajarkan kita untuk memuliakan dan menghormati Tuhan, meminta kehendak-Nya, meminta rezeki sehari-hari, meminta pengampunan dosa dan meminta pertolongan-Nya agar terhindar dari godaan dan kejahatan. Doa ini adalah salah satu doa yang paling terkenal dan sering digunakan dalam tradisi Kristen.

Pada ayat 14 Yesus mengajarkan pentingnya mengampuni orang lain, karena jika kita tidak mengampuni orang lain, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita. Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha memaafkan orang lain dan memaafkan kesalahannya, agar kita juga bisa mendapat ampunan dari Allah.

Renungan Matius 6 5 15

Renungan Matius 6:5-15 mengajarkan kita untuk berdoa kepada Tuhan dengan tulus dan ikhlas, menghindari keinginan untuk menunjukkan kebenaran atau mencari pujian manusia, dan selalu berusaha mengampuni orang lain. Dengan cara ini, kita akan mendapat keberkahan dari Tuhan dan kehidupan yang lebih baik dalam keselamatan-Nya.

Kuasa Kasih”: Renungan, Rabu 6 Desember 2023

Matius 6 34 renungan, matius 6 5 15, renungan singkat matius 7 15 23, renungan matius 6 33, renungan matius 18 15 20, renungan matius 15 21 28, renungan matius 5 13 16, renungan matius 6 1 4, renungan matius 5, renungan matius 10 5 15, renungan matius 19 13 15, renungan matius 5 1 12

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *