Linggar Artinya

Linggar Artinya – Opak adalah sejenis makanan ringan kerupuk yang terbuat dari beras ketan, kelapa sangrai, dan santan. Jajanan ini banyak ditemui di wilayah Priangan.

Ketika saya masih kecil, ibu saya sering mengajak saya ke pesta-pesta di lingkungan sekitar. Tentu saja kenangan ini membawa kembali kenangan masa lalu ketika kita menyantap berbagai jenis makanan yang disajikan pada perayaan tersebut. Bahkan, setiap datang merayakannya, mata saya tak pernah melewatkan ragam masakan khas Priangan.

Linggar Artinya

Linggar Artinya

Ada juga kue basah seperti wajit, nagasari dan ciyu. Ada juga jajanan kering yang digoreng seperti ranginang, atau jajanan panggang seperti opo.

Abk Jadi Korban Tenggelamnya Km Linggar Petak Di Perairan Samudera Hindia

Ya, itu buram. Hidangan ini sering menarik perhatian saya dan seolah menggantikan tempatnya jika dijajakan bersama jajanan lainnya. Sisi lainnya biasanya disimpan dalam gelas dan disajikan dengan ranginang, saroja atau kichimpring. Ini adalah jajanan yang terbuat dari beras ketan sebagai bahan utamanya. Bentuknya bulat dan teksturnya tidak terlalu keras.

Salah satu penyebab buramnya adalah cara pembuatannya yang cukup bermasalah. Sebelum dipanggang, campurkan bahan dasar berupa beras ketan, kelapa parut, dan santan. Kemudian masukkan ke dalam wajan, taburi garam atau merica dan masak hingga setengah matang.

Ketan yang dikukus dibuat kecil-kecil, pipih hingga bulat. Setelah tipis dan bulat, blanko buram ini ditempatkan di atas lubang besar dan dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering. Proses pengeringan ini biasanya memakan waktu yang cukup lama. Jika terlihat kering, bahan buram tersebut terkena bara panas dan dimasak hingga teksturnya empuk dan renyah.

Beberapa hari yang lalu, teman saya Arif mengajak saya mengunjungi rumah produksi Opak di desa Linggar, kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Tempatnya berada di ujung jalan sempit yang hampir mengarah ke Jalan Warung Cina, tak jauh dari kediaman Arif.

Gelar Halal Bi Halal, Perantau Dan Warga Linggapura Siap Berkolaborasi Memajukan Desa

Rumah produksi Buram ini dimiliki oleh Bapak Eno Suhand. Teman saya bercerita bahwa Pak Eno adalah satu-satunya pembuat opos tertua di Linggar yang masih hidup. Saat ini dia berusia 84 tahun. Pak Ino selalu ditemani istri dan anak-anaknya jika melakukan protes. Sedangkan proses repetisinya berlangsung mulai pukul 5 pagi hingga menjelang salat Dzuhur.

Penjualan sebaliknya mungkin tidak ada dalam imajinasi Pak Ino sebelumnya. Pada tahun 1996, beliau pensiun dari jabatannya sebagai pegawai Pekerjaan Umum (PU) di Gedung Pemerintahan Kota Bandung. Dari sana, dia mengambil keputusan untuk tidak menjual rumahnya.

Di teras rumah Ino, kami berbincang tentang hal-hal yang kurang jelas. Tuan Ino adalah orang yang baik hati. Dia menyambut kami dengan hangat dan bahkan memperlakukan kami lebih dari sekadar tamu biasa. Percakapan kami memanas ketika anak Pak Eno, Deni, membawakan kami bagian belakang piring buatannya.

Linggar Artinya

Menariknya, sisi lain Park Eun tidak dijual secara terang-terangan seperti pedagang lain yang sengaja membuka lapaknya di pinggir jalan. Pak Ino hanya menerima perintah buram untuk bertemu langsung di rumahnya.

Nasib 10 Korban Hilang Akibat Tenggelamnya Km Linggar Petak 89 Di Perairan Samudera Hindia

Selain twist, Denny juga menyuguhkan kami dua gelas air hangat dan sepiring food cake yang konon dibuat dengan bahan yang sama dengan twist. Inilah sebabnya mengapa banyak orang di kampung halaman saya menyebut makanan itu manis-manis buram. Meski berpenampilan seperti itu, toko kelontong ini memiliki tampilan yang unik.

Setelah duduk di meja sebelah kami, Pak Ino mempersilakan kami untuk mencicipinya. Tanpa basa-basi lagi saya langsung jajan yang berhubungan dengan nama Lingar sambil mendengarkan Pak Park Ino berbicara tentang perbedaan Lingar opal dan opal buatan desa lain.

Buram belum diproduksi hanya di satu wilayah saja. Setahu saya counter-produksi Priangan sudah menyebar ke wilayah timur, hingga wilayah barat Priangan.

Misalnya produksi Oppo yang masih eksis di kawasan Cililin Kabupaten Bandung Barat. Atau sebaliknya datang dari Kabupaten Tasikmalaya. Ngomong-ngomong, adik iparku tiap tahun membawa yang sebaliknya dari rumahnya di pesisir selatan Cipatujah. Jadi saya tahu betul rasa opak Tasikmalaya itu seperti apa. Perlawanan dari Kabupaten Sumedang tidak bisa kita lupakan. Produk olahan ketan banyak dijual di warung pinggir jalan sebagai jajanan atau oleh-oleh khas Jawa Barat.

Website Resmi Desa Linggar

Saat aku mencicipinya, oppa Ino pasti terasa sangat berbeda dengan oppa dari daerah lain. Teksturnya lebih renyah. Rasanya kebalikan dari bakino, yaitu lebih pedas dan sedikit manis saat dikunyah. Berbeda dengan yang lain yang pernah saya coba, teksturnya agak keras dan tidak manis sama sekali.

Tentu saja menurutku sisi lain Park Ino lebih enak karena kandungan santannya lebih kental. Jadi perbedaannya dengan produk sejenis lainnya yang cenderung asin dan sedikit mengandung santan sangat jelas terlihat. Setidaknya itulah yang dirasakan lidahku.

Di Desa Linggar sudah terjadi pengulangan sejak masa Hindia Belanda. Seperti yang dijelaskan Pak Yen, pembuatan alat-alat di desa Lingar merupakan tradisi yang diwariskan nenek moyangnya. Saat itu, masyarakat melakukan hal sebaliknya untuk menghindari menjual diri. Masing-masing dijadikan sebagai camilan saat puasa atau sebaliknya sebagai lauk di tengah hari raya Idul Fitri. Artinya, itu memakan waktu sendiri.

Linggar Artinya

Sedangkan dalam proses produksinya, tetangga dan kerabat berkolaborasi baik secara teknis maupun resep. Prinsip persatuan ini tampaknya masih bertahan hingga tahun 1990an. Opak kemudian menjadi penghasilan sampingan bagi sebagian masyarakat Linggar dan mereka mempunyai merek khusus bernama opak Linggar, yang terhubung dengan desa tempat tinggal Pak Eno sekarang.

Beginilah Visualisasi Pencemaran Industri Di Hari Lingkungan Hidup

Pak Eno menjual satu buah tas buram dari rumahnya seharga Rp 40.000. Sementara itu, satu blok berukuran sedang berharga sekitar Rp 125.000. Harganya relatif murah dibandingkan dengan cara pengolahannya yang memakan waktu beberapa hari.

Nama terkenal Opak Linggar tidak hanya terdengar di daerah sekitarnya saja. Pelanggan menjangkau luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sumatera.

Pada hari-hari biasa, para pembeli kerap menjadikan counter sebagai oleh-oleh untuk kerabatnya. Selama Ramadhan, penjualan produk buram meningkat drastis dibandingkan waktu biasanya. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang melakukan tindakan larangan ngemil usai berbuka puasa. Pasca peristiwa Alas Wetan, Linggar membangun kehidupan dan hidup sederhana dan bahagia. Namun sayang, takdir tidak mengizinkan hal tersebut.

Bencana menimpa keluarganya ketika ibunya dirasuki oleh sosok yang mengutuk keluarganya. Sosok ini menyiksa ibuku hingga jiwanya tertawan di dunia lain.

Museum Konferensi Linggarjati

Bencana muncul dari berbagai hutan keramat. Makhluk hidup yang ahli ilmu hitam dan menuntut haknya mulai bermunculan, namun sayangnya kekuatan manusia saja tidak cukup…

Alas Sewu Lecepat Part 2 – Leuweung SasarSpoiler:… Kami pun membantu Mas Linggar berjalan menuju hutan belakang. Jarak dari wisma hanya beberapa ratus meter. Namun, sebelum masuk cukup jauh ke dalam hutan, Mas Linggar sudah tidak sadarkan diri lagi. “Paket lagu Areb Gawe Perkoro…?” (Siapa yang ingin melihat sesuatu?) Itu suara wanita! Mas Linus berbicara dengan suara perempuan. Suaranya seperti suara wanita tua, rendah dan penuh amarah. Tapi bukan itu yang saya khawatirkan. Mata Mas Lingar benar-benar merah untuk orang kulit putih. Kemunculan makhluk itu menunjukkan bahwa tubuhnya sedang menderita. “Ora ono sing kekeku perkoro, Kulo mungkin ingin tahu apa tujuan penjenjenu masuk Linggar” (Tidak ada yang mencari kasus, saya ingin tahu apa tujuan masuk Linggar), jawab Paklek. Pada saat itu, bayangan hitam tiba-tiba muncul dari tubuh Lin Ga. Makhluk bayangan besar berbentuk wanita dengan rambut tergerai. “Berhenti berbisnis!” (Itu bukan urusanmu) “Jika tidak ada yang ingin kau katakan, lebih baik tinggalkan tubuh Lingar,” perintah Bakrek. “Ugh, ini aku! Aku Nyai Kunti! Tak ada yang bisa memerintahku!” Sosok itu berteriak. Saat itu angin bertiup sangat kencang. Bayangan tangan Nyai Kunti muncul, mencekik Paklek dan berusaha menyerang kami. Paklek hendak mengeluarkan Keris, namun tiba-tiba Kliwon melompat ke hadapan Paklek. “Gggaaaa!!” Bayangan Kliwon semakin membesar dan Nyai Kunti menjadi takut. Tak mau menyerah, ia kini fokus pada Linus. Tangan dan kukunya yang tajam berusaha meraih wajah Linus. Namun dia berhenti… Sosok itu menatap tajam ke mata Linus. “Apa yang Anda lihat di depan Anda bukanlah orang biasa.” Itu adalah suara Kesadaran Warisan Pedang Batu yang menembus tubuh Mars Linus. Kini Nyai Kunti menoleh dan menatapku. Saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Aku mengencangkan simpul sarungku dan memanggil temanku. “Wanasur!” Tiba-tiba terdengar suara guntur memecah kesunyian desa. Nyai Kunti yang tadinya angkuh kini menjadi pendiam. Dia tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan. Namun ada satu hal yang tidak dapat disangkal. Dia tidak takut… … “Khikhikhi… “Kamu pasti datang.” kata Nyai Kunti. Saya sama sekali tidak mengerti maksudnya. Namun saya yakin yang dimaksudnya dengan ‘kamu’ adalah jiwa Pusaka Mas Linus dan Wanasura serta Wanasudra. “Kami tidak ingin menimbulkan masalah!” perintah Paklek. “Kembalikan saja jiwa keluarga Linggar dan tinggalkan jasad Linggar.” “Kikihi… kau tahu tidak akan semudah itu bagiku untuk meninggalkan jasad ini kan? Nyai Kunti, kata-katanya terdengar biasa saja, namun entah mengapa ia merasakan banyak tekanan saat mengucapkannya. “Tetapi…” Izinkan saya memberi tahu Anda satu hal. Bukan saya yang mengambil jiwa keluarga Sasena,” kata Nyai Kunti. “Tapi… Lingga bilang jiwa mereka terpisah saat kamu merasukinya?!” teriak Mas Linus. “Dasar bodoh., aku sudah memutuskan untuk menyelamatkan jasad anak ini saja. Selebihnya, seluruh jiwa keluarga Sasena, telah diklaim oleh-Nya…” Nyai Kunti berkata, “Jadi, apakah Nyai Kunti itu sebenarnya wali Mas Linggar, atau dia musuh?” ?” Aku semakin bingung dengan sikap makhluk itu. Tapi begitu dia mendengar pertanyaanku, sosok bayangan roh wanita yang mengerikan bergegas ke hadapanku. “Seorang wanita yang telah dirotasi oleh tujuh pembantunya dari keluarga Sasena Aku telah menghamilinya sampai tujuh kali dan mengambil janinnya. Hanya anak ketujuh yang tersisa di dalam rahim, dan wanita itu terikat dan hanya bisa makan dari mulut tujuh petapa barbar.

Linggar jati cirebon, linggar, linggar jati kuningan, wisata linggar jati, linggar jati, linggar jaya elektronik, perjanjian linggar, linggar jati meubel, david linggar, davy linggar, josephine linggar, hotel linggar jati

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *