Dongeng Monyet Dan Buaya

Dongeng Monyet Dan Buaya – Kroko si buaya dan istrinya tinggal di rawa. Buaya sangat ingin mencoba memakan pisang tersebut. Tiba-tiba sebatang pohon pisang tumbuh di atas rawa tempat tinggalnya. Warna kuning cerah pada pisang selalu membuat Kroko mengeluarkan air liur.

Buaya sering melintasi rawa. Ia mencoba memanjat pohon pisang itu dan meraih buahnya. Namun usahanya selalu gagal.

Dongeng Monyet Dan Buaya

Dongeng Monyet Dan Buaya

Beruntungnya, di dekat pohon pisang itu ada seekor monyet baik hati bernama Saruru. Saat berada di pohon pisang, Monyet Saruru selalu melempar pisang ke bawah pohon. Dan, buaya juga memakan separuhnya. Dia membawa pulang separuhnya untuk diberikan kepada istrinya.

Si Monyet Penipu

Kroko si buaya dan Saruru si monyet akhirnya berteman. Setiap kali Saruru si kera memanjat pohon pisang, ia tak lupa memberikan Kroko si buaya dan istrinya.

Karena istri Kroko mengatakan hal itu setiap hari, akhirnya Kroko berpikir. Maka suatu hari, Kroko si buaya bertemu dengan Saruru si monyet.

“Saruru, suamiku sakit. Apakah kamu ingin melihat istriku? Siapa tahu kamu tahu obat mujarab yang bisa menyembuhkan suamiku, kata Kroko si buaya.

Monyet Saruru sama sekali tidak curiga. Khawatir, dia langsung melompat turun dari pohon. Lalu dia naik ke belakang temannya.

Kesabaran Dan Kebijaksanaan Burung Pipit

“Yah, aku malu, aku tidak tahu tentang kematian suamimu. Aku bahkan tidak tahu jenis obatnya…” Saruru sangat menyesal.

“Oh, Buaya! Sebelum menyeberang ke sini, seharusnya kamu memberitahuku bahwa suamimu membutuhkan hatiku. Hatiku sangat berharga. Saya tidak membawanya ketika saya pergi. Aku menyimpan hatiku di pohon,” kata Saruru dengan tenang dan berusaha untuk tidak terlihat takut.

“Jika suamimu membutuhkan hatiku, kamu harus menghiburku lagi. “Aku akan menemukan hatiku di pohon pisang,” desak Saruru lagi.

Dongeng Monyet Dan Buaya

Sesampainya di seberang, Saruru segera memanjat pohon pisang tersebut. Kemudian lompat ke pohon lain tanpa menginjak tanah. Sementara itu, Kroko menunggu Saruru kembali ke tepi rawa.

Contoh Cerita Fabel Untuk Anak, Kaya Pesan Moral Dan Nilai Kehidupan

Ingin tahu lebih banyak tentang fiksi ilmiah, novel grafis, cerita misteri, dan cerita seru lainnya? Teman-teman dapat berlangganan Majalah.

Ikuti juga kemeriahan acara HUT ke-50 Magazine di majalah Magazine, website dan media sosial! #50YearsofMagazine2023 Suatu hari ada seekor monyet. Dia ingin menyeberangi sungai. Sesampainya di sana ia melihat seekor buaya dan meminta bantuan kepada buaya di seberang sungai. Buaya setuju dan menyuruh monyet untuk melompat ke punggungnya. Kemudian buaya berenang di sungai dengan monyet di atasnya.

Sayangnya, buaya sangat lapar, berhenti di tengah sungai, dan berkata kepada monyet, “Ayahku sakit parah. Kamu harus makan jantung monyet itu. Supaya kamu sehat kembali.”

Saat itu monyet berada dalam situasi berbahaya dan harus berpikir matang. Lalu dia mendapat ide bagus. Dia menuntun buaya itu kembali ke tepi sungai. “Untuk apa?” tanya buaya. “Karena aku tidak membawa hatiku,” kata monyet. Jangan ditaruh di bawah pohon, dekat pohon kelapa di tepi sungai.

The Best 10 Cergam Dongeng Nusantara 1

Buaya itu setuju dan berbalik. Dia berenang kembali ke tepi sungai. Ketika sampai di tepi sungai, kera tersebut melompat ke punggung buaya. Kemudian naik ke puncak pohon.

“Dimana hatimu?” tanya buaya. “Dasar bodoh,” kata monyet. “Sekarang aku bebas dan aku punya hati.”

Suatu hari ada seekor monyet. Dia ingin menyeberangi sungai. Sesampainya di sana, dia melihat seekor buaya, maka dia meminta buaya tersebut untuk membantunya menyeberangi sungai. Buaya setuju dengan monyet untuk melompat ke punggungnya. Lalu buaya berenang ke bawah, kera di atas.

Dongeng Monyet Dan Buaya

Sayangnya buaya tersebut sangat lapar, berhenti di tengah sungai dan berkata tidak apa-apa. “Ayah saya sakit parah, dia harus makan hati monyet. Agar dia bisa sembuh kembali.

Mari Mendengar Cerita

Saat itu monyet berada dalam situasi berbahaya dan harus berpikir matang. Lalu dia mendapat ide bagus. Dia menuntun buaya itu kembali ke tepi sungai. “Untuk apa?” tanya buaya. “Karena aku tidak membawa hatiku,” kata monyet. “Saya ditinggalkan di bawah pohon, dekat pohon kelapa di tepi sungai.

Buaya itu setuju dan berbalik. Dia berenang kembali ke tepi sungai. Ketika sampai di tepi sungai, kera tersebut melompat ke punggung buaya. Kemudian naik ke puncak pohon.

“Dimana hatimu?” tanya buaya. “Dasar bodoh,” kata monyet. “Sekarang aku bebas dan aku punya hati.”

Buku dongeng kancil dan buaya, dongeng gajah dan monyet, dongeng monyet, buku dongeng si kancil dan buaya, dongeng monyet dan buaya penipu, dongeng buaya dan monyet, dongeng buaya dan kancil yang cerdik, dongeng buaya putih, dongeng buaya dan kancil, dongeng monyet dan kancil, cerita dongeng pendek kancil dan buaya, dongeng monyet dan kelinci

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *