Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara – Kisah seorang gadis bernama Keke Panayan asal tanah Minahasa yang tidak dimaafkan oleh orang tuanya karena tidak menaati aturan.

Cerita Sepeda Panayan berasal dari Sulawesi Utara. Salah satu bidang yang menekankan perempuan sebagai tokoh utamanya. Selain Panayan Bike, ada juga Pingkan Matindas dan Marimbau.

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Dari peninggalan sejarah terlihat jelas bahwa budaya Minahasa dan Sulawesi Utara tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seorang misionaris dan penulis asal Belanda bernama Nicholas Grafland pernah menulis buku tentang perempuan Minahasa. Dalam bukunya, perempuan digambarkan sebagai sosok yang antusias, pekerja keras, lincah, dan mau membantu. Satu hal yang ditegaskan, perempuan Minahasa memiliki rasa cinta yang kuat dan selalu mengungkapkan rasa cintanya seperti Keke Panayan.

Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi: La Dana Dan Kerbau

Keke Panayan adalah gadis yang baik hati, namun karena tidak bisa mengendalikan emosinya, ia berdebat dan mengonfrontasi orang tuanya. Sedangkan Pontohroring dan Mamalawan, ayah dan ibu Keke Panayan, merupakan orang tua yang sangat penyayang. Sayangnya, orang tuanya telah menetapkan aturan yang tidak bisa lagi ia patuhi.

Apa yang terjadi dengan Keke Panayan hingga membuat masyarakat Desa Vanua Uneri percaya bahwa bulan purnama adalah saat Keke Panayan menikmati upacara syukuran di bawah sinar bulan? Yuk, kita simak bersama kisah Keke Panayan.

Alkisah ada sepasang suami istri yang sedang mendambakan seorang anak dalam pernikahannya. Mereka adalah Pontohroring dan Mamalaua dari Desa Vanua Uner. Selama beberapa dekade, mereka meminta Sang Pencipta untuk memberikan mereka anak. Keduanya semakin tua. Kata orang, tidak mungkin punya anak. Namun Pontohorring dan Mamalauan tidak putus asa dan tidak berdoa. Mereka teguh dalam keimanannya, suatu saat Tuhan akan mengabulkan doa mereka untuk memberikan mereka seorang anak.

Hingga suatu hari, Pontohroring mendengar kabar bahwa di desa berikutnya, Desa Viamu, ada seorang suami yang bisa disembuhkan dengan menggunakan bahan herbal. Pasangan suami istri tersebut adalah seorang tabib bernama Mondoringin yang ahli dalam membuat ramuan penyembuhan, dan sang istri, Laloan, yang pandai melakukan pijatan.

Cerita Rakyat Nusantara Sulawesi Barat

Suatu hari, Pontohroring dan Mamalauan pergi ke desa Viamu untuk menemui Mondoringin dan Laloan. Seolah terinspirasi mimpi, Mondoringin dan Laloan tak kaget dengan kedatangan Pontohoring dan Mamalawan. Pontohroring dan Mamalaua banyak melakukan ritual dan upacara di rumah Mondoringin selama berhari-hari. Ketika tiba waktunya untuk menyelesaikan perawatan, keduanya kembali ke rumah masing-masing.

Tidak lama kemudian, keajaiban terjadi. Mamalawan sedang mengandung anak yang telah lama ditunggu-tunggu. Saat mereka melahirkan pasangan ini, mereka terkejut saat melihat seorang anak yang cantik. Mereka juga menyebutnya Sepeda Panagean. Sepeda adalah kata cinta untuk anak perempuan di Minahasa.

Seiring berjalannya waktu, Panayan tumbuh dan menjadi gadis cantik, sopan dan penuh kasih sayang. Tak hanya yang lain, Panayan juga menyayangi binatang. Karena keprihatinan dan kesedihannya yang besar, Panayan suatu saat menghilang dan membiarkan masyarakat di desa mencari keberadaannya. Pada akhirnya, Panayan terlihat berada di tepi danau sambil mengikuti anak kucing di tengah hujan untuk menemukan saudara-saudaranya yang lain di tepi danau. Panayan takut berjalan pulang karena hujan deras.

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Di lain waktu, Keke Panayan nyaris tenggelam di sungai. Ia berusaha menyelamatkan temannya yang terjatuh ke sungai saat mereka sedang bermain. Mamalawan yang berada di sungai sambil mandi sangat ketakutan. Beruntung Panayan dan temannya berhasil selamat.

Kumpulan Cerita Rakyat Dari Sulawesi Selatan

Sejak kejadian meresahkan ini, Pontohroring dan Mamaluan sangat aman bagi Panayan. Mereka tidak ingin kejadian yang sama atau lebih berbahaya terulang kembali. Untuk melindungi putri semata wayangnya, Pontohroring dan Mamalawan melakukan banyak pembatasan.

Bahkan ketika Panayan masih kecil, ia dilarang bepergian sendirian ke luar rumah, bahkan di malam hari. Bahkan, teman-teman seusianya sering bermain bersama, sekadar menangkap ikan di sungai atau menari bersama. Namun berbeda dengan Panagean. Ia lebih sering bermain dengan teman-temannya di rumah dibandingkan di luar rumah.

Hingga suatu hari Panayan diliputi kesedihan. Ada perayaan di Desa Vanua Uner yang ditunggu-tunggu seluruh warga. Pesta tersebut merupakan perayaan syukuran seluruh warga setelah musim panen, yang diadakan setiap malam bulan purnama. Festival kali ini akan diadakan dalam skala yang lebih besar, karena hasil panen di desa Vanua Uner juga meningkat. Seluruh penduduk dengan senang hati menerimanya.

Ada tarian yang menjadi highlight utama pesta tersebut. Tariannya adalah tari Maengket. Tarian tradisional Minahasa ini melambangkan perayaan rasa syukur atas keberhasilan panen dan pengangkatan Sang Pencipta. Mengapa tari Maengket begitu seru? Karena tarian tersebut biasa ditarikan oleh anak muda dan orang dewasa lainnya. Semua orang bersemangat untuk berangkat ke syukuran panen, termasuk Panagian dan teman-temannya.

Balai Bahasa Sulteng Luncurkan 10 Buku Cerita Rakyat

Mengapa tari Maengket begitu seru? Karena tarian tersebut biasa ditarikan oleh anak muda dan orang dewasa lainnya.

Panayan tahu bahwa ayah dan ibunya tidak akan membiarkan dia pergi ke festival panen. Namun Panayan masih berusaha meminta izin kepada ibu dan ayahnya. Sayangnya, orang tua Panayan tidak pernah melepaskannya. Jangan lupa menari Maengket sesukamu, Panayan bahkan tidak diperbolehkan pergi ke pesta.

Hari festival telah tiba. Suasana di desa ini sangat semarak dan semarak. Sejak dini hari, masyarakat memenuhi lapangan tempat festival diadakan. Panayan mendengar suara keramaian dan orang lalu lalang hanya melalui jendela kamarnya. Menjelang malam, lingkungan menjadi semakin panas. Panayan, seolah ingin menghiburnya, mengganti bajunya. Dia mengenakan pakaian terbaik dan mempercantik dirinya.

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Tak berhenti sampai disitu, Panayan berani menemui ayah dan ibunya. Di bawah sinar bulan purnama yang bulat sempurna, Panayan pun mengungkapkan keinginannya untuk menghadiri upacara tersebut. Namun keputusan orang tua tetap sama. Panayan dilarang pergi ke pesta. Hati Panayan hancur total. Dia kembali ke ruangan yang sunyi, memikirkan kegembiraan pesta Thanksgiving bersama teman-temannya.

Gunung Lokon Dan Gunung Kalabat (cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara)

Tiba-tiba ada cahaya di kamarnya. Saat Panagian membuka jendela kamar, api langsung merambat ke tempat diadakannya syukuran panen. Panayan terkejut. Dia mengikuti cahaya itu dan menjangkau banyak orang. Semua orang yang ada di jemaah seakan-akan melihat seorang putri turun dari kayangan. Seluruh penduduk Panagean terheran-heran. Saat adegan tari Maengket dimulai, Panayan pun ikut menari. Menariknya, Panayan menari dengan terampil seolah-olah sudah berkali-kali melakukannya, padahal baru pertama kali menarikan Maengket. Saking serunya pesta yang didatangi Panayan, ia kehilangan waktu dan berpisah hingga pagi hari.

Panayan segera kembali ke rumah. Dia sangat ketakutan. Tentu saja, saat pulang, ayah dan ibu Panayan tidak mempersilakannya masuk. Mondoringin sangat marah kepada Panayan. Dia sangat marah karena gadis yang paling dia sukai itu seksi. Mamalawan juga sangat sedih dengan Panayan yang tidak bisa bersabar dan menahan diri.

Panagean terus mengemis dan menangis di luar rumah. Dia meminta maaf dengan air mata kesedihan. Namun hati ayah dan ibu tidak tergerak. Bukannya memaafkan dan membiarkannya pulang, Mondoringin malah mengusir Panayan.

Panayan merasa sedih. Dia meminta maaf kepada orang tuanya sebanyak yang dia bisa, tetapi ayah dan ibunya tidak ingin melihatnya. Panagean pergi dengan sedih. Dia pergi ke rumah bibinya untuk tidur malam itu, dan dia kedinginan.

Isi Keke Panagian

Bibi dan paman yang terkejut melihat Panayan ada di sana, sangat ingin melihatnya. Namun keduanya tak bisa berbuat banyak untuk melindungi perasaan ayah dan ibu Panayan. Wanita itu justru menasihati Pannyayan untuk kembali ke rumahnya, tidur di kolong rumah, menunggu pagi. Panayan tidak percaya bahwa ia harus tidur di bawah rumah yang merupakan tempat tinggal hewan. Dia sangat sedih karena tidak ada orang yang bisa lari darinya.

Kemudian Panagean meninggalkan rumah tantenya dengan langkah terhuyung tanpa arah. Namun kakinya membawa Panayan kembali ke lapangan tempat dia menari Maengket tadi malam. Panayan sangat menyayangkan perbuatannya. Sambil menangis, dia bertanya-tanya mengapa tidak ada yang membukakan pintu maaf untuknya.

Air matanya mengalir deras. Dia membungkuk ke batu Tumotova sambil terus menangis dan menangis. Di tengah lapangan besar, angin yang bertiup kencang berhenti tiba-tiba. Bulan yang bersinar pun seakan tak tega melihat penderitaan Panayan yang bersembunyi di balik awan. Hanya tangisan Panayan yang terdengar dalam kesunyian.

Cerita Rakyat Dari Sulawesi Utara

Lalu tiba-tiba seberkas cahaya datang dari langit. Keajaiban kembali terjadi pada Panayan. Sebuah tangga yang menyala turun di tengah-tengah bukaan. Luys, seolah sedang meminum sesuatu, memanggil Panayan untuk naik ke atasnya. Luys dengan lembut mengajak Panayan pulang. Panagean tiba-tiba dipenuhi harapan. Dia berjalan perlahan menuju tangga yang terang.

Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara: Dongeng Persahabatan Kera Dan Ayam

Ternyata selama ini keluarga dan sahabatnya mengikuti Panayan dan menyaksikan kesedihannya. Pontohroring dan Mamaluan menyesal tidak memaafkan Panagian atas perbuatannya. Mereka meminta Panayan menuruni tangga kebakaran. Dengan berurai air mata, Mamaluan dan Pontohroring memohon agar Panayan kembali, namun Panayan terus bangkit. Panagian melambaikan tangan sambil terus mendaki hingga langit dipenuhi bintang.

Sejak saat itu, masyarakat desa Vanua Uneri percaya bahwa setiap bulan purnama, Panayan mengadakan upacara syukuran di bawah sinar bulan.

Dari kisah Roda Panagean kita dapat belajar bahwa hubungan orang tua dan anak merupakan hubungan dua arah. Sebagai orang tua, mengesampingkan rasa cinta hanya akan menciptakan jarak dalam hubungan Anda dengan anak. Anak-anak juga tidak bahagia dengan orang tuanya.

Memang tidak semua keinginan anak harus dituruti, namun larangan juga bukan solusi tepat untuk melindungi anak. Yang ada dalam pikirannya, seiring bertambahnya usia anak, sebaiknya orang tua berpikir lebih matang.

Buku Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi

Memang benar, penyesalan selalu datang terlambat. Jangan sampai kita merasa puas hingga lupa mendengarkan kata hati. Jika kita mampu memaafkan, kita tidak hanya membiarkan orang yang berbuat salah kepada kita menang, tapi kita juga membawa kedamaian dalam diri dan hati kita. Seseorang melakukan kesalahan, bukan?

Cerita rakyat sulawesi utara, cerita rakyat sumatera utara, cerita rakyat sulawesi utara toar lumimuut, cerita rakyat sulawesi tenggara, cerita rakyat dari sumatera utara, cerita rakyat sulawesi barat, kumpulan cerita rakyat sulawesi, cerita rakyat dari sulawesi, cerita rakyat sulawesi selatan, cerita rakyat di sulawesi, cerita rakyat sulawesi tengah, cerita rakyat dari sulawesi tengah

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *