Arti Nande Karo

Arti Nande Karo – Suku Karo merupakan salah satu suku terpopuler di Sumatera Utara. Menurut laman Kemendikbud, Suku Karo merupakan suku asli yang mendiami pegunungan Karo, Daerah Deli Serdang, Kota Binjai, Daerah Langkat, Daerah Dairi, Kota Medan dan Daerah Aceh Tenggara.

Nama suku Karo juga dijadikan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang disebut Kabupaten Karo. Bahasa adat suku Karo disebut dengan bahasa Karo dan suku Karo mempunyai sapaan khusus yaitu Mecuah-cuah.

Arti Nande Karo

Arti Nande Karo

Selain bahasa dan sapaan yang khas, ternyata suku Karo mempunyai konsep untuk mengartikan hubungan dan kekerabatan. Konsep ini disebut Sangkep Nggeluh. Apa yang dimaksud dengan Sangkep Nggeluh? Inilah Sumatera Utara secara singkat untuk masyarakatnya.

Mengenal Sangkep Nggeluh, Konsep Hubungan Dan Kekerabatan Dalam Suku Karo

Menurut Brepin Tarigan M.Sn, Dosen Universitas Negeri Medan dalam artikelnya yang berjudul Karya Rakut Sitelu, Sangkep Nggeluh adalah keutuhan hidup manusia. Maksud dari kejujuran merupakan unsur-unsur dalam adat istiadat yang mengatur masyarakat Karo. Apabila suatu masyarakat etnis Karo tidak mempunyai Sangkep Nggeluh maka dapat dikatakan masyarakat tersebut belum sah secara hukum Karo.

Bagi pendatang yang tinggal dan menikah dengan orang Karo, akan dicarikan seseorang untuk Sangkep Nggeluh. Dalam masyarakat etnis Karo terdapat beberapa unsur yang menjadi ciri Sangkep Nggeluh, yaitu Merga Silima, Tutur Siwaluh, Perkade-Kaden Ten Dua Tambah Sada dan Rakut Sitelu. Jadi apa maksudnya semua ini?

Merga Silima merupakan identitas masyarakat Karo yang diambil dari Merga bapaknya yaitu sukunya. Nama keluarga ditulis setelah nama seseorang. Merga digunakan sebagai kata sifat laki-laki dan Beru digunakan sebagai kata sifat perempuan. Kambing dan kambing diwariskan secara turun temurun atas dasar patriarki (garis keturunan ayah), tanpa memandang asal usul ibu, yang disebut bere-bere. Misalnya Erik marga Tarigan bere-bere Ginting untuk pria dan Elsa bere Tarigan bere-bere Sembiring untuk wanita.

Masyarakat etnis Karo mempunyai lima penggabungan (suku) utama, yaitu: Tarigan, Ginting, Wargan-angin, Karo-karo dan Sembiring. Penc Merga dan Beru menjadi identitas masyarakat etnis Karo dalam kehidupan sosial budaya. Identitas Merga dan Beru sudah menunjukkan apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan. Merga dan beru sangat penting dalam masyarakat Karo karena digunakan sebagai tanda pengenal untuk melakukan proses bertutur.

Buku Pengantin Batak Karo

Ertütur adalah proses memperkenalkan atau memperkenalkan seseorang dalam upacara adat dan kehidupan sehari-hari dengan meminta merga dan bere-bere (garis keturunan ibu) yang mendefinisikan hubungan pada tingkat kekerabatan dalam masyarakat Karo. Proses ertuturi dapat digunakan oleh setiap masyarakat Karo tidak hanya dalam lingkungan keluarga besar saja tetapi juga bagi masyarakat yang tidak termasuk dalam lingkaran tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa semua orang Karo yang memiliki padang rumput dan ternak dapat menjadi kade.-kade ( relatif). . jika mereka melakukan proses ertutur untuk mengetahui posisi mereka antara yang satu dengan yang lainnya.

Masyarakat Karo menguasai delapan bahasa, yaitu: Sembuyak, Senia, Senina Sipemeren, Senina Siparibanen, Anak Beru, Anak Beru Waziri, Kalimbubu dan Puang Kalimbubu. Kedelapan pidato tersebut dinamakan Tutur Siwaluh.

Perkataan Siwaluh akan terciptanya Perkade-Kaden Sepuluh Dua Ditambah Sada. Perkade-Kaden Sepuluh Dua Tambah Sada berasal dari kata perkade-kaden yang berarti hubungan persaudaraan dalam struktur sosial, sepuluh dua ditambah sada artinya ada dua belas jenis hubungan persaudaraan dalam struktur sosial dan tambahan sada diartikan sebagai orang asing. memasuki sistem. dari jajaran masyarakat Karo dan nenek moyang masyarakat Karo yang telah meninggal.

Arti Nande Karo

Sepuluh Dua Perkade-Kaden Bulang (kakek), Nini (nenek), Bapa (ayah), Nande (ibu), Bengkila (nama suami saudara perempuan ayah), Bibi (nama saudara perempuan ayah), Mama (nama saudara perempuan ayah), nama saudara laki-laki ibu ), Mami (nama istri saudara laki-laki ibu), Impal (nama anak ibu), Silih (nama suami saudara perempuan), dan Berebere (nama anak saudara laki-laki, Jin).

Gendang Guro Guro Aron Makalah

Rakut Sitelu merupakan sistem kekerabatan yang mengatur kedudukan dalam adat istiadat masyarakat Karo yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu Kalimbubu, Sukut dan Anak Beru. Rakut adalah penghubung, Si adalah kata penghubung yang, tetapi Telu adalah Tiga.

Oleh karena itu, Rakut Sitelu merupakan tiga mata rantai yang membentuk suatu sistem tatanan sosial dalam masyarakat Karo. Sistem ini memungkinkan masyarakat etnis Karo untuk saling berhubungan, saling memiliki dan saling menghormati.

Kalimbubu menjadi Dibata ni idah (wujud Tuhan) yang patut dihormati karena dalam kepercayaan masyarakat Karo, Kalimbubu merupakan wakil Dibata di muka bumi dan berani/tendi (roh atau jiwa) yang satu. Sedangkan Anak Beru adalah ‘pelayan’ atau pihak yang melaksanakan Sukut dalam upacara dan ritual adat dan menjadi tuan rumah Sukut dalam upacara atau ritual adat. Namun dalam sistem Rakut Sitelu, ketiga kedudukan tersebut akan saling tumpang tindih, sehingga tidak ada kasta dalam masyarakat etnis Karo.

Untuk lebih memahami siapa Kalimbubu, Sukut dan Anak Beru, mari kita ambil contoh upacara pernikahan adat. Sukut adalah orang yang sudah menikah dan orang tuanya, Kalimbubu adalah saudara laki-laki dan istri dari ibunya (mama dan mami), dan Anak Beru adalah saudara perempuan yang sudah menikah (turang) dan saudara perempuan dari ayahnya serta suami (bengkila dan bibi).

Kumpulan Lagu Karo

Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu dan Perkade-Kaden Ten Dua Tambah Sada merupakan konsep-konsep yang mengatur tatanan sosial dalam masyarakat suku Karo.

Oleh karena itu, konsep ini disingkat menjadi Sangkep Nggeluh pada masyarakat suku Karo di Sumatera Utara. Sangat membingungkan, bukan? Semoga membantu, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Kuala Namu malam itu. Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Bandara Kota Medan yang menggantikan Polandia. Setelah rasa sedih selama perjalanan, muncul rasa syukur. Rupanya, pemberitaan besar hilangnya pesawat yang terbang dari Surabaya sehari sebelumnya berdampak besar di pikiran saya.

Saya berjalan di sepanjang sisi bandara dan mengagumi hasil perkembangannya yang indah dan tidak biasa dalam beberapa tahun terakhir. Aku mengikuti jejak penumpang lain untuk menutupi kebingungan menuju pintu keluar. Situasinya persis sama ketika saya pertama kali merasakan pergi ke Yogyakarta dari Polandia.

Arti Nande Karo

Meski banyak pilihan transportasi dari bandara ke Medan, saya memutuskan untuk menggunakan jalur bus menuju kediaman adik saya. Dalam perjalanan pulang, aku mungkin akan mencoba menggunakan kereta yang terhubung ke bandara, pikirku.

La Biasa Netty Vera

“Ke Simpang Pos?” tanyaku pada pria yang sedang menunggu penumpang menuju kota Medan. Pria itu adalah kondektur bus ALS dan memastikan tempatku, dengan cekatan mengambil tas yang kubawa dan menaruhnya di bagasi.

Perjalananku kali ini cukup di luar dugaan, padahal sudah kuinginkan sejak beberapa bulan terakhir. Tak ada alasan bagi saya untuk pulang, karena sudah kurang lebih sepuluh tahun saya tergiur dengan kemeriahan Natal di desa. Namun bukan tanpa keinginan untuk mudik karena perjalanan pulang ibarat memuat perbekalan untuk beberapa bulan ke depan.

Saya tidak punya rencana yang memadai bagi seorang pengembara untuk pulang. Dia bahkan tidak bisa mengatur dompetnya untuk penumpang yang cacat finansial. Namun, aku mencoba kembali menikmati manisnya perjalanan dan melepaskan seluruh indraku untuk menyerap segala aroma tanah dan setiap desa yang kulalui.

Sesampainya di Medan, saya memutuskan untuk memulai langkah selanjutnya dari kampung halaman saya di Lawe Desky, di Aceh Tenggara. Beberapa hari di Negeri Harmoni sudah cukup untuk memuaskan dahaga emosional beberapa tahun yang hilang dan tiba-tiba berubah. Saya sebisa mungkin menikmati aroma pedesaan dan segarnya udara pegunungan.

Lirik Lagu Gadung Nanam Keju

Wajah yang saya lihat tidak banyak berubah. Perubahan terbesar mungkin adalah saya tumbuh di luar hubungan sosial yang ada dalam waktu yang lama. Rasanya canggung dan sedikit salah untuk mulai main-main.

Seorang teman masa kecil berkata: “Wah… Sombong sekali dia sekarang”. Aku berbalik dan langsung tersenyum untuk menyembunyikan keterkejutanku. Berjalan sendiri selama beberapa hari, aku sadar masih banyak wajah yang aku rindukan.

“Apa kabarmu? Maaf kalau aku tidak mengerti. Tentu saja, aku harus menyesuaikannya kembali,” kataku sambil menjabat tangan anak laki-laki berkulit gelap dan sedikit kurus itu. Seingatku, dia masih anak-anak seusiaku ketika Dia mulai tinggal di luar desa. Di akhir percakapan kami, beberapa percakapan dan beberapa lelucon keluar. Pertemuan itu juga memberi saya keberanian untuk mulai berbicara pada pertemuan berikutnya.

Arti Nande Karo

Bertemu dengan keluarga-keluarga yang hidup dalam benak masyarakatnya memuaskan dahaga bertemu dengan banyak tokoh yang mempunyai peran dalam hidup saya. Mengunjungi beberapa teman dan melihat perubahan besar di sekolah lamaku adalah kegiatan yang tak terlupakan.

Tata Cara Perkawinan Suku Karo

Selang beberapa hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Kidupen di Tanah Karo. Ya, desa yang aku datangi menjadi tujuan utama perjalanan pulangku kali ini. Perjalanan darat dari tenggara Aceh ke sana memang sangat melelahkan. Saya harus melalui jalan rusak yang sering disebut proyek abadi. Beberapa pemuda desa tak segan-segan berbuat curang dengan tongkat di tangan karena tanah merah menutupi jalan berlubang.

“Surat kabar SIB perlu memberikan gambaran yang lebih tajam mengenai proyek jalan busuk ini,” pikirku, lalu terkekeh dalam hati dan mengenang pengalaman menjadi satu-satunya surat kabar yang bisa kubaca di sekolah. Surat kabar pada waktu itu memberi saya banyak dorongan untuk keluar dari bidang pengalaman putra negara saya.

Jam-jam yang terasa seperti bertahun-tahun telah berlalu. Abu vulkanik Sinabung masih terasa menerpa saluran pernapasan. Dan selang beberapa saat, perjalanan menuju tujuan utama pun dimulai dengan berjalan kaki.

Ia melanjutkan perjalanan pendakiannya ke sana dengan menyeberangi sungai bersama beberapa kerabatnya. Ya, tempat yang saya tuju bukan di desa Kidupen sendiri, melainkan di atas bukit. Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari desa untuk sampai ke sana. Namun keringat dan kelelahan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perasaan bahwa saya bisa tetap berada di tanah.

Anak Mami Lirik Lagu Dan Arti

“Mejuah-juah, Nande itingku” teriakku dalam hati. Mataku menatap kuburan di depanku. Nafasku mulai tenang dan aku tahu aku perlu lebih banyak pengendalian diri. Saya bukan lagi anak yang paling banyak menangis di kuburan ini 17 tahun lalu.

Ya, saya mengunjungi simbol kediaman Nande

Lagu karo oh nande, nande catering, nande, lirik lagu karo nande, karo, lagu karo permen nande, lagu karo nande kekelengen, download lagu karo permen nande, sari nande, lagu karo nande, download lagu karo nande, oh nande

You May Also Like

About the Author: Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *